Bagi Julius, perjalanan dari bangku kuliah menuju karier di Jepang bukan hanya tentang kemampuan berbahasa Jepang, tetapi juga tentang passion, pengalaman, dan kemauan untuk terus belajar. 

Julius Wahyu Ceicario merupakan Binusian 2022 dari Japanese Popular Culture BINUS University yang kini berkarier di Osaka, Jepang. Setelah lulus pada 2022, ia mengawali perjalanan profesionalnya di Indonesia sebelum mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Jepang pada Januari 2025. Kini, ia bekerja di Nankai Travel International dalam bidang Business Process Outsourcing (BPO), HR, dan Event.

Mengapa Memilih Japanese Popular Culture? 

Ketertarikan Julius terhadap Japanese pop culture dan bahasa Jepang menjadi salah satu alasan ia memilih Japanese Popular Culture. Ia juga tertarik dengan program 3+1 BINUS yang memberikan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung di dunia profesional. 

Salah satu pengalaman kuliah yang paling berkesan baginya adalah ketika mengerjakan skripsi mengenai Hololive, topik yang memang ia sukai. 

“Saya bisa meneliti apa yang saya suka. Ketika melakukan sesuatu yang kita suka, kita bisa mengembangkan pengetahuan lebih dalam dan prosesnya jadi lebih fun.” 

Setelah mendapatkan pengalaman profesional di Indonesia dan menggunakan bahasa Jepang dalam pekerjaannya, Julius kemudian mendapatkan kesempatan untuk mengikuti interview denganperusahaan di Jepang. Kesempatan tersebut membawanya ke Osaka pada Januari 2025. 

Membawa Pembelajaran di Kampus ke Dunia Kerja 

Bagi Julius, pembelajaran selama kuliah tetap menjadi bekal penting ketika memasuki dunia kerja di Jepang, terutama Business Japanese dan Japanese business etiquette. 

Pengetahuan mengenai bahasa formal, etika berkomunikasi, hingga cara melakukan pertukaran kartu nama membantunya beradaptasi dengan lingkungan profesional. 

Namun, bekerja di Jepang juga membuatnya menyadari bahwa proses belajar tidak berhenti setelah lulus. 

“Learning doesn’t stop when you graduate. You learn every day.” 

Belajar di Luar Ruang Kelas 

Bekerja di Jepang membuat Julius semakin memahami pentingnya beradaptasi dengan budaya dan ritme kerja yang berbeda. Menurutnya, lingkungan kerja Jepang memiliki pace yang cepat, detail, dan sangat memperhatikan ketepatan waktu. 

Selain kemampuan bahasa, pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa memahami budaya dan cara berkomunikasi menjadi bagian penting ketika bekerja di lingkungan internasional. 

Melihat Perkembangan AI dan Peluang Karier 

Julius juga melihat bahwa mahasiswa Japanese Popular Culture perlu mengikuti perkembangan AI dan memahami bagaimana teknologi dapat digunakan sebagai partner untuk mendukung kemampuan manusia. 

Menurutnya, peluang karier lulusan Japanese Popular Culture juga tidak terbatas pada profesi penerjemah. Kemampuan bahasa dapat dikombinasikan dengan pemahaman budaya, business etiquette, dan keterampilan profesional lainnya. 

Ia juga mendorong mahasiswa untuk mulai membangun koneksi dengan alumni sejak masih berada di bangku kuliah. 

“Dengan menutup diri, kita justru menutup kesempatan untuk masa depan.” 

Dari Kampus Menuju Karier 

Perjalanan Julius dari Japanese Popular Culture BINUS hingga berkarier di Osaka menunjukkan bahwa passion dapat menjadi titik awal, sementara pengalaman dan keberanian mengambil kesempatan dapat membuka jalan menuju berbagai kemungkinan. 

Dari ruang kelas hingga dunia profesional, setiap pengalaman menjadi bagian dari proses untuk terus belajar, berkembang, dan menemukan arah karier.